Jumat, 19 September 2014

(Pertemuan Keempat) Kebenaran, Critical Thinking, Subyektivisme dan Obyektivisme, Logika, Konfirmasi, Inferensi, dan Telaah Konstruksi Teor

halo semua!
hari ini 19 september 2014 , perkuliahan dibagi menjadi empat sesi. dengan pembahasannya, yaitu : (1) Kebenaran, (2) Critical Thinking, (3) Subyektivisme dan Obyektivisme, (4) Logika, (5) Konfirmasi, Inferensi, dan Telaah Konstruksi teori.

KEBENARAN
  • Kebenaran ini sangat penting untuk menilai sifat atau kualisasi dari suatu proposisi (pernyataan) atau makna/isi. Pengetahuan bisa dinilai benar salah, karena pengetahuan pada dasarnya merupakan gabungan dan perpaduan dari sistim pernyataan. 
  • Presepsi tidak dapat disebut benar atau salah. Yang bisa disebut benar atau salah adalah isi pernyataan tentang apa yang dipresepsikanya. yang bisa di sebut benar atau salah adalah orang yang mempresepsikanya.
Pengertian Kebenaran :
  •  Kebenaran sebagai sifat pengetahuan disebut kebenaran epistemologis. Lawan dari kebenaran adalah salah. Secara umum kebenaran biasanya dimengerti sebagai kesesuaian antara apa yang dipikirkan dan atau dinyatakan dengan kenyataan yang sesungguhnya. dan dapat dinyatakan benar jika sesuai dengan kenyataan. 
  • Pengertian Plato tentang kebenaran secara etimologi bahwa aletheia berarti "ketaktersembunyian adanya" atau "ketersingkapan adanya". Menurut Plato bahwa selama kita terkait pada "yang ada" dan tidak masuk pada "adanya dari yang ada", kita belum berjumpa dengan kebenaran, karena "adanya" itu masih tersembunyi.
  • Berbeda dengan Plato, Aristoteles dalam memahamikebenaran lebih memusatkan perhatian pada kualitas pernyataan yang dibuat oleh subyek penahu ketika dirinya menegaskan suatu putusan entah secara afirmatif atau negatif. 
  • Menurut Kaum Positivisme Logis bahwa kebenaran dibedakan menjadi dua,yaitu kebenaran faktual dan kebenaran nalar. 
  • Kebenaran faktual adalah kebenaran tentang ada tidaknya secara faktual di dunia nyata sebagaimana dialami manusia (yang biasanya diukur dengan dapat atau tidaknya secara inderawi). misalnya : bumi bulat sebagai pernyataan yang memiliki kebenaran faktual atau tidak, pada prinsipnya harus bisa diuji kebenarannya berdasarkan pengamatan inderawi. 
  • Kebenaran nalar adalah kebenaran yang bersifat tautologis (pengulangan gagasan) dan tidak menambah pengetahuan baru mengenai dunia, tetapi dapat menjadi sarana yang berdaya guna untuk memperoleh pengetahuan yang benar mengenai dunia ini. Kebenaran ini didasarkan pada penyimpulan deduktif. #kebenaran nalar ini membantu kita untuk menemukan kebenaran faktual. 
  • Kebenaran nalar berbeda dengan kebenaran faktual yang bersifat nisbi (hanya terlihat ketika dibandingkan dengan yang lain, tidak mutlakdan relatif) dan mentak (mungkin belum pasti), sedangkan kebenaran nalar bersifat mutlak dan tidak niscaya (tentu, pasti). 
  • Selain kedua jenis kebenaran yang diungkapkan oleh kaum Positive Logis, mengukuti Thomas Aquinas, maka kebenaran dibedakan menjadi dua, yaitu Kebenaran Ontologis yang mempunya arti sebagai kebenaran yang terdapat dalam kenyataan, entah spiritual atau material, yang meskipun ada kemungkina untuk diketahui. Dan Kebenaran Logis yang memiliki arti sebagai kebenaran yang terdapat dalam akal budi manusia si penahu, dalam bentuk adanya kesesuaian antara akal budi dengan kenyataan.
Kedudukan Kebenaran :
  • Kaum Eksistensial menyatakan bahwa kebenaran (kebenaran eksistensial)  apa yang secara pribadi berharga bagi subyek konkrit yang bersangkutan dan pantas untuk dipegang teguh dengan penuh kesetiaan. Kebenaran Ilmiah bersifat eksternal terhadap subyek, maka kebenaran eksistensial bersifat internal terhadap subyek. 
  • Bagi manusia sebagai makhluk yang terbatas, kebenaran sebagai ketersingkapnya kenyataan sebagaimana adanya. 
Kesasihan dan Kekeliruan :
  • Kekeliruan adalah segala sesuatu yang menyangkut tindakan kognitif subyek penahu sedangkan kesalahan adalah hasil dari tindakan tersebut. Kekeliruan muncul akibat kegagalan dalam mengidentifikasi bukti yang tepat, menganggap bukti sudah mencangkup padahal belum atau sebaliknya menganggap bukti belum cukup padahal sudah.
  • Faktor yang memungkinkan terjadinya bisajadi Kompleksitas atau kekaburan perkara yang menjadi persoalan.
  • Sedangkan faktor - faktor yang menyebabkan kekeliruan, misalnya : 
  1. Sikap terburu-buru dan kurang perhatian dalam salah satu tahap atau keseluruhan proses kegiatan.
  2. Sikap takut salah yang keterlaluan atau sebaliknya sikap terlalu gegabah dalam melangkah. 


CRITICAL THINKING
Berpikir Kritis :
  • Mengamati/memeriksa sesuatu untuk mengklarifikasi, mengintrepetasikan dan mengevaluasi. 
Karakteristik berpikir kritis :

1. Rasional, Reasonable, Reflektif
 - Berdasarkan alasan dan bukti.
=> Cth : seorang siswa SMA yang baru lulus, mencari Universitas yang bagus untuk melanjutkan pendidikannya, setelah ia mendapat informasi dan mempertimbangkan fakta, ia memutuskan untuk masuk ke Universitas yang sudah ia cari informasi.

 2. Melibatkan Skepticism yang sehat dan konstruktif
- Tidak menerima atau menolak ide-ide dengan sembarangan, kecuali karena mengerti hal tersebut.
-Menaati peraturan setelah berpikir panjang dengan mencari pemahaman, merasionalkan, mengikuti yang masuk akal, dan bekerja untuk memperbaiki yang tidak masuk akal. 
 =>Cth : ketika seseorang penjual menawarkan barang baru kepada pelangan, ia mengatakan bahwa barang baru ini  lebih baik dari barang lama, pelanggan menanyakan bahwa apakan penjual dapat membuktikannya ?
3. Otonomi
-Tidak dapat dimanipulasi, berpikir dengan pikiran sendiri.
4. Kreatif
- Menciptakan ide-ide orisinal dengan cara menghubungkan pemikiran dan konsep.
5. Adil
- Tidak bias atau berpihak
6. Dapat dipercaya dan dilakukan
- Memutuskan tindakan yang akan dilakukan
- Membuat observasi yang dapat dipercaya
- Menegaskan kesimpulan secara tepat
- Mengatasi masalah dan mengevaluasi kebijakan, tuntutan dan tindakan

5 Model berpikir kritis :
  1. Total Recall (Pemanggilan Total) = kemampuan mengakses pengetahuan yang sudah dipelajari. yang dimana pengetahuan tersebuat sudah ada didalam memori otak dan kita mengingat" nya kembali.
  2. Habits ( Kebiasaan ) = Sesuatu yang dilakukan secara berulang-ulang/sering, yang akan menjadi kebiasaan tanpa berpikir. 
  3. Inquiry (Pencarian Informasi) = cara berpikir seseorang yang digunakan untuk menegakkan suatu ksimpulan. adanya inquiry ini akan membuat hasil lebih baik dan akurat.
  4. New Ideas and Creativity (Ide-ide Baru dan  Kreatifitas) = seseorang dapat berpikir melebihi buku sumber . Kreatif berbeda dengan Habits
  5. Knowing How You Think (Mengetahui apa yang anda pikirkan) = tentang bagaimana seseorang berpikir

 SUBYEKTIVISME DAN OBYEKTIVISME
  • Subyektivisme : Pengetahuan dipahami sebagai keyakinan yang dianut oleh individu. Pendukung ini adalah :
- Aristoteles, Plato, Rene Descartes
- Kaum Solipsisme ( solo ipse )
- Kaum Realisme Epistemologis
- Kaum Idealisme Epistemologis
  • Ciri-ciri Pendekatan Subyektivisme :
 -Menggagas pengetahuan sebagai suatu keadaan mental yang khusus (semacam kepercayaan yang istimewa), misalnya sejarah.
- Pengalaman subyektif sebagai titik tolak pengetahuan dari data inderawi diri sendiri.
- Prinsip subyektif tentang alasan cukup, karena pengalaman bersifat personal, benar secara pasti dan meyakinkan.

  • Descartes : Cogito ergo sum cogitans "saya berpikir maka saya adalah pengada yang berpikir". Descartes menolak skeptisme yang membawanya justru ke arah subyektivisme.
  • Banyak filsuf sesudah Descartes mengandaikan bahwa satu-satunya hal yang dapat kita ketahui dengan pasti adalah diri kita sendiri dan kegiatan sadar kita. Pengetahuan tentang diri sendiri merupakan pengetahuan langsung. 
  • Sikap dasar skeptisisme adalah kita tidak pernah tau tentang apapun. Menurut penganut skeptisisme mustahil manusia mencapai pengetahuan tentang seusuatu, atau paling kurang manusia tidak pernah merasa yakin apakah dirinya dapat mencapai pengetahuan tertentu. Skeptisisme meragu-ragukan kemungkinan.
  • kenyataan bukti bagi keyakinan nalar akan adanya dunia luar atau "yang bukan aku" tidak kurang meyakinkan dibandingkan bukti yang tersedia bagi kenyataan adanya subyek atau "aku".
  • Descartes ke dalamposisi ekstrim yang disebut Solipsisme. (Bahasa latin gabungan antara Solus dan ipse yang berarti "ia sendiri pada dirinya").
  •  Obyektivisme : Suatu pandangan yang menekankan bahwa butir-butir pengetahuan manusia - dari soal yang sederhana sampai teori yang kompleks - mempunyai sifat dan ciri yang melampaui (di luar ) keyakinan dan kesadaran individu (pengamat).
  • Obyektivisme merupakan pandangan bahya obyek yang kita presepsikan melalui perantara indera kita itu ada dan bebas dari kesadaran manusia. 
  • Obyektifitas ini beranggapan pada tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya. Objektivisme diartikan sebagai pandangan yang menganggap bahwa segala sesuatu yang difahami adalah tidak tergantung pada orang yang memahami.
  • Ada 3 pandangan dasar objektivisme :
  1. Kebenaran itu indenpenden terlepas dari pandang subjektif,
  2. Kebenaran itu datang dari bukti faktual,
  3. Kebenaran hanya bisa didasari dari pengalaman inderawi.
  • Pandangan ini sangat dekat dengan Positivisme dan empirisme. 
  • Pengetahuan dalam pengertian objektivisme adalah pengetahuan tanpa orang : ia adalah pengetahuan tanpa diketahui subjek (Karl R. Popper). 
  • Obyek iu bersifat "umum" dalam arti bahwa obyek yang sama dapat dipresepsikan oleh pengamat yang jumlahnya tidak terbatas. Obyek-obyek itu bersifat permanen, baik untuk dipresepsikan atau pun tidak.
  • Untuk mempercayai kebenaran kesaksian inderawi, beberapa syarat harus dipenuhi :
  1. obyek harus sesuai dengan indra kita,
  2. organ indra harus normal dan sehat,
  3.  karena obyek ditangkap melalui medium, maka medium itu harus ada.
  • Obyek dibedakan menjadi dua, yaitu :
- Obyek khusus merupakan data yang ditangkap hanya oleh satu indra.
- Obyek Umum merupakan data yang dapat ditangkap oleh lebih dari satu indera.


LOGIKA
  • Logika dari bahasa Yunani, yaitu lohikos (sesuatu yang diungkapkanlewat bahasa). Logika = cabang yang mempelajari, menyusun, dan membahas asas/aturan formal serta kriteria yang sahih bagi penalaran dengan penyimpulan untuk mencapat keberadaan yang dapat dipertanggung jawabkan scra rasional. sedangkan secara singkat, logika adalah ilmu pengetahuan dan kecakapan untuk berpikir lurus.
  • Obyek Logika dibagi dua, yaitu :
 - Obyek material logika adalah manusia itu sendiri.- Obyek formal logika adalah kegiatan akal budi untuk melakukan penalaran yang tepat yang tampak melalui ungkapan pikiran melalui bahasa.
  • Macam-macam Logika :
- Logika kodrati : suatu susunan saat akal budi bekerja menurut hukum logika scr spontan.
- Logika ilmiah : berusaha mempertajam akal budi manusia agar dapat bekerja lebih teliti atau tepat, sehingga kesesatan dapat dihindari.

  • Logika dibagi menjadi dua penalaran, yaitu :
PENALARAN INDUKTIF
  • Penalaran induktif = cara kerja ilmu pengetahuan yang bertolak dari sejumlah proposisi tunggal/partikular tertentu untuk menarik kesimpilan umum tertentu.
  • Cara penalaran induktif : proses induksi mulai berdasarkan kejadian-kejadian, gejala partikular. Penal induksi = penalaran berdasarkan pengertian partikular/premis untuk hasilkan pengertian umum/kesimpulan. 
  • Tiga ciri penlaran induktif : 1)premis penal, 2)kesimpulan dalam penalaran induksilebih luas drpd apa yang dinyatakan dlm premis, 3) meski kesimpulan tak mengikat, tapi manusia menerimanya.
  • Generalisasi induktif berarti proses penalaran  berdasarkan pengamatan atas gejala dengan sifat tertentu untuk menarik kesimpulan ttg semua. 
  • tiga syarat membuat generalisasi : 1) tdk terbatas scr numerik, tdk boleh terpikat pada jumlah tertentu, 2)tdk terbatas scr spasio temporal, hrs berlaku dimana saja, 3)dpt dijadikan dasar pengadaian.
  • analogi induktif = berbicara ttg dua hal yang berbeda perlu diperhatikan : persamaan dan perbedaan. maka antalogi induktif ini merupakan proses penalaran utk menarik kesimpulan ttg kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan kebenaran gejala khusus yang lain yang punya sifat esensial yang sama.
PENALARAN DEDUKTIF

  • Deduksi merupakan suatu proses tertentu dalam proses itu akal budi kita menyimpulkan pengetahuan yang lebih 'khusus' dari pengetahuan yang lebih 'umum', yang lebih khusus itu sudah termuat secara implisit dalam pengetahuan yang lebih umum.
  • tinggi rendahnya probabilitas konklusi induktif dipengaruhi oleh: 1) fakto fakta, 2) faktor analogi, 3) faktor disanalogi, 4) faktor luas konklusi.

KONFIRMASI
  • Menurut Etimologi, konfirmasi berasal dari bahasa Inggris yang berarti penegasan dan atau memperkuat.Berhubungan dengan filsafat ilmu, maka fungsi ilmu pengetahuan adalah menjelaskan, mengaskan, memperkuat apa yang didapat dari kenyataan/fakta. Sifatnya lebih interpretatif dan memberi makna ttg sesuatu. 
  • Ada dua aspek konfirmasi : 
  1. Konfirmasi Kuantitatif = untuk memastikan kebenaran, ilmu pengetahuan mengemukakan konfirmasi aspek kuantitatif. Penelitian yang mengunakan sebanyak mungkin sampel dan membuat suatu kesimpulan akhir yang bersifat umum. 
  2. Konfirmasi Kualitatif =jika konfirmasi kualitatif tidak bisa dilaksanakan,maka harus menjalankan konfirmasi kualitatif. . Penelitian yang menerapkan model seperti wawancara.
  • Konfirmasi berupaya mencari hubungan yang normatif antara hipotesis (kesimpulan sementara) yang sudah diambil dengan fakta-fakta(evidensi).
  • 3 jenis konfirmasi :
  1. decision theory : kepastian berdasarkan keputusan, 
  2. estimation theory : menetapkan kepastian dengan memberi peluang benar salah melalui konsep probabilitas,
  3. reliability theory : menetapkan kepastian dengan mencermati stabilitas fakta/eviden yang berubah-ubah terhadap hipotesis.
 INFERENSI
  •  Inferensi dapat diartikan sebagai sesuatu proses penarikan konklusi dari satu atau lebih proposisi (keputusan). Dengan adanya penyimpulan ini, akan ada pengetahuan baru yang muncul. Penyimpulan ini dapat berupa mengakui atau memungkiri suatu kesatuan antara dua pernyataan. 
  • Jenis Inferensi dibagi menjadi dua, yaitu :
- inferensi deduktif yang dibagi langi menjadi dua, yaitu :
* inferensi langsung = penarikan kesimpulan hanya dari sebuah premis. Kesimpulan yang ditarik tidak boleh lebih luas dari premisnya.
*inferensi tidak langsung (silogistik) = penarikan kesimpulan dengan menggunakan dua premis. Kesimpulan yang ditarik tidak lebih umum dari pada premis-premisnya.
  •  Hukum Inferensi :
  1. kalau premis-premis benar, maka kesimpulan benar,
  2. kalau premis-premis salah, maka kesimpulan dapat salah, dapat kebetulan benar,
  3. jika kesimpulan salah, maka premis-premis juga salah,
  4. jika kesimpulan benar, maka premis-premisnya dapat benar, tetapi dapat juga salah.
KONSTRUKSI TEORI
  • Teori adalah model/kerangka pikiranyang menjelaskan fenomen alami/sosial tertentu. teori dirumuskan, dikembangkan, dievaluasi menurut metode alamiah.
  • Dua kutub arti teori :
- Kutub 1 : teori sbg hukum eksperimental.
- Kutub 2 : teori sebagai hukum yang berkualitas normal.
  • Teori Relativitas Einstein : Relativitas khusus menunjukan bahwa jika dua pengamat berada dalam kerangka acuan lembam (lamban atau sifat materi yang menantang atau menghambat perubahan keadaan gerakmateri itu) dan bergerak dengan kecepatan sama relatif terhadap pengamat lain, maka kedua pengamat tersebut tidak dapat melakukan percobaan untuk menentukan meraka bergerak atau diam.
  • ada tiga periode perkembangan ilmu pengetahuan :
  1. Animisme : fase percaya pada mitos,
  2. Ilmu Empiris : tolak ukur ilmu yang paling sederhana adalah (a) pengalaman, (b) klasifikasi, (c) penemuan hubungan-hubungan, (d) perkiraan kebenaran.
  3. Ilmu Teoretis : gejala yang ditemukan dalam ilmu  empiris diterangkan dengan kerangka pemikiran.
  • Dibangun dengan :
  1. Abstraksi generalisasi,
  2. Deduksi probabilistik dan deduksi apsiosi (spekulatif).
  • 3 model konstruksi teori :
  1. Model korespondensi : kebenaran sesuatu dibuktikan dengan menemukan relevansi dengan yang lain.
  2. Model koherensi : sesuatu dipandang benar bila sesuai dengan pandangan moral tertentu.Model ini digunakan dalam pendektan fenomenologis.
  3. Model paradigmatis : konsep kebenaran ditata menurut pola hubungan yang beragam, menyederhanakan yang kompleks.
  • Aliran dalam Konstruksi Teori:
  1. Reduksionisme: teori itu suatu pernyataan yang abstrak, tdk dpt diamati scr empiris, dan tdk dpt diuji langsing.
  2. Instrumentalisme : teori adalah instrumen bagi pernyataan observasi agar terarah dan terkonstruksi.
  3. Realisme : teori dianggap benar bila real, scr substantif ada, bukan fiktif.

hari ini ,ini lah materi yang telah kami pelajari. banyak kan teman !?
wow ...
hahaha,,,
cek terus ya blog ku ini,,, yang pasrtinya akan selalu ada pembahasan-pembahasan yang pastinya dapat berguana untu teman-teman sekalian ^-^


Sumber : Power Point perkuliahan filsafat di Universitas Tarumanagara

8 komentar: