Perkembangan
Kreativitas pada Anak
Latar
Belakang Masalah
Kreativitas
itu berkaitan dengan perkembangan kognitif suatu anak karena kreativitas itu
adalah pemikiran yang berbeda dari yang sudah ada, atau mengembangkan sesuatu
yang sudah ada lebih menarik dan bermanfaat. Suatu kekreativitasan itu
sangatlah penting, untuk menciptakan suatu hal yang baru dan berguna untuk masa
depan kita.
Pengertian
Kreativitas
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kreativitas adalah kemampuan untuk
mencipta, daya cipta, dan perihal berkreasi (Kamus Besar Bahasa Indonesia
[KBBI], 2005).
Pengertian kreativitas menurut para
ahli. Torrance menyatakan bahwa
Kreativitas adalah proses
kemampuan memahami kesenjangan-kesenjangan atau hambatan-hambatan dalam
hidupnya, merumuskan hipotesis-hipotesis baru, dan mengomunikasikan
hasil-hasilnya, serta sedapat mungkin memodifikasi dan menguji
hipotesis-hipotesis yang telah dirumuskan. Untuk dapat memiliki kemampuan
kreatif tersebut, hal tersebut berlangsung melalui proses belajar yang
dilakukan oleh individu dalam kurun waktu yang lama (Ali & Asrori, 2014, h.
43).
Guilford menyatakan bahwa kreativitas mengacu pada kemampuan yang
menandai ciri-ciri seorang kreatif (Ali & Asrori, 2014, h. 41).
Menurut Sternberg dan Lubart dikutip dalam (Wright, 2010, h. 3)
“Creativity is the process of generating ideas that are novel and bringing into
existence a product that is appropriate and of high quality.”
Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Kreativitas
Arieti
dikutip dalam Ali dan Asrori (2014), mengemukakan beberapa faktor sosiologis
yang kondusif bagi perkembangan kreativitas, yaitu (a) tersedianya
sarana-sarana kebudayaan, (b) keterbukaan terhadap keragaman cara berpikir, (c)
adanya keleluasaan bagi berbagai media kebudayan, (d) adanya toleransi terhadap
pandangan-pandangan yang divergen, dan (e) adanya penghargaan yang memadai
terhadap orang-orang yang berprestasi.
Menurut Jean Piaget dalam Bybee dan Sund, 1982 (dikutip dalam Ali &
Asrori, 2014), faktor-faktor yang memungkinkan semakin berkembangnya
kreativitas adalah (a) anak-anak mulai mampu menampilkan operasi-operasi
mental, (b) anak mulai mampu berpikir logis dalam bentuk yang sederhana, (c)
anak mulai berkembang kemampuannya untuk memelihara identitas diri, (d) konsep
tentang ruang sudah semakin luas, (e) anak sudah amat menyadari akan adanya
masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.
Karena
perkembangan kreativitas itu juga merupakan perkembangan proses kognitif maka
kreativitas dapat ditinjau melalui proses perkembangan kognitif maka
perkembangan kognitif melalui empat tahap. Menurut Jean Piaget dalam McCormack (dikutip
dalam Ali & Asrori, 2014, h. 46-49) ada empat tahap perkembangan kognitif,
yaitu sebagai berikut:
- Tahapan sensori-motoris, tahap ini dialami pada usia 0-2 tahun. Pada tahap ini anak berada dalam suatu pertumbuhan yang ditandai oleh kecenderungan sensori-motoris yang amat jelas. Sensasi yang dilakukan berdasarkan keadaan lingkungannya. Anak mengembangkan kemampuannya untuk mempersepsi, melakukan sentuhan-sentuhan, melakukan suatu gerakan, dan secara perlahan-lahan belajar mengoordinasikan tindakannya. Kemampuan yang paling tinggi pada tahap ini terjadi pada umur 18-24 bulan, yaitu sudah mulai terjadi transisi dari representasi tertutup menjadi representasi terbuka.
- Tahap praoperasional, tahap ini berlangsung pada usia 2-7 tahun. Pada tahap ini, anak bersifat sangat egosentris sehingga seringkali mengalami masalah berinteraksi dengan lingkungannya, termasuk dengan orangtuanya. Anak sering sulit memahami pandangan orang lain dan banyak mengutamakan pandanganya sendiri.
- Tahap operasional konkret, tahap ini berlangsung pada usia 7-11 tahun. Pada tahap ini, anak mulai menyesuaikan diri dengan realitas konkret dan berkembang rasa ingin tahunya. Sifat egosentris anak di tahap ini sudah semakin berkurang, dan interaksinya dengan lingkungan sudah semakin berkembang.
- Tahap operasional formal, tahap ini berlangsung pada usia 11 tahun keatas. Pada tahap ini, anak telah mampu mewujudkan sesuatu dalam pekerjaannya yang merupakan hasil dari pkiran logis. Interaksinya dengan lingkungan sudah amat luas menjangkau teman sebayanya.
Tahap-tahap
Kreativitas
Wallas
dalam Solso (dikutip dalam Ali & Asrori, 2014, h. 51), mengemukakan empat
tahapan proses kreatif, yaitu:
1. Persiapan,
anak berusaha mengumpulkan informasi atau data
untuk memecehkan masalah yang dihadapi.
2. Inkubasi,
proses pemecahan
masalah dalam alam prasadar, anak seakan-akan melupakannya.
3.
Iluminasi, timbul inspirasi atau gagasan-gagasan
baru serta proses psikologi yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi
atau gagasan baru.
4.
Verifikasi, gagasan yang telah muncul dievaluasi
secara kritis dan konvergen serta menghadapkannya kepada realitas.
Cara
Berpikir Kreatif
Guilford
(1970) mengemukakan dua cara berpikir, yaitu (a) berpikir konvergen, cara-cara
individu dalam memikirkan sesuatu dengan berpandangan bahwa hanya ada satu
jawaban yang benar; dan (b) berpikir divergen, kemampuan individu yang untuk mencari
berbagai alternatif jawaban terhadap suatu persoalan. Anak-anak yang kreatif
lebih banyak memiliki cara berpikir divergen (Ali & Asrori, 2014, h. 41).
Buzan (2005/2006, h. 94) menyatakan bahwa kreativitas adalah kemampuan
berpikir dengan cara baru, menjadi orisinil. Pemikiran kreatif ada 3, yaitu:
(a) kefasihan, seberapa cepat dan seberapa mudah anda melepaskan ide-ide baru
yang kreatif; (b) fleksibilitas, kemampuan melihat sesuatu dari sudut pandang
lain, mempertimbangkan sesuatu dari sudut pandang yang berlawanan; dan (c)
orisinalitas, inti dari semua pemikiran kreatif, dan mewakili kemampuan
menghasilkan ide-ide yang unik, dan tidak biasa.
Upaya
untuk Meningkatkan Kreativitas anak
Sepuluh
cara untuk meningkatkan kreativitas anak adalah (a) tumbuhkan rasa percaya diri
anak, (b) biarkan anak melakukan eksplorasi, (c) biarkan anak berimajinasi, (d)
lebih banyak memberi saran daripada larangan, (e) berikan kegiatan yang
merangsang kreativitas, (f) berikan waktu bermain yang cukup, (g) cegah stres
pada anak, (h) berikan kesempatan anak untuk berpikir sendiri, (i) jangan
memarahi anak jika melakukan kesalahan, (j) ciptakan suanasa keluarga penuh
kasih sayang (“cara meningkatkan kreativitas anak”, 2014).
Simpulan
Kreativitas itu pemikiran individu yang terbuka atau divergen terhadap segala
sesuatu dan termasuk pandangan orang lain, yang dapat menciptakan
hipotesis-hipotesis baru dan karya-karya yang dimodifikasi dari karya orang
lain maupun karya baru yang bermutu tinggi dari seorang individu itu sendiri.
Kreativitas anak berkaitan dengan perkembangan kognitif anak, sehingga ada
tahapan-tahapan yang menyangkut kognitif, dan
proses kreativitas anak juga mempengaruhi kekreativitasan anak.
Kekreativitasan anak juga berpengaruh dari keluarga yang dapat
menciptakan suasana bahagia dalam keluarga, anak akan lebih bersemangat dalam
melakukan suatu hal yang akan menambahkan kreativitas anak.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, M., & Asrori, M.
(2014). Psikologi remaja: Perkembangan
peserta didik. Jakarta: Bumi Aksara.
Buzan, T. (2006). Senam
otak untuk kesuksesan mental. Dalam F. Yuniar (Ed.), Buku pintar: Mind map (S. Purwoko, Penerj.). Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama. (Karya asli diterbitkan tahun 2005)
Cara meningkatkan
kreativitas anak. (2014, November). The
Asian Parent. Diunduh dari http://id.theasianparent.com/10-cara-meningkatkan-kreativitas-anak/
Hastomo, A. (n.d). Perkembangan dan Belajar Peserta Didik.
Diunduh dari http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Agung%20Hastomo,%20S.Pd.,%20M.Pd/PBPD3.pdf
Pusat Bahasa Depiknas
(2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia (ed. 3). Jakarta: Balai Pustaka.
Wright, S. (2010). Understanding creativity in early childhood.
Thousand Oaks, CA: SAGE.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar