Selasa, 11 November 2014

TUGAS AKHIR Della Agatha 705140024



Perkembangan Kreativitas pada Anak
Latar Belakang Masalah
     Kreativitas itu berkaitan dengan perkembangan kognitif suatu anak karena kreativitas itu adalah pemikiran yang berbeda dari yang sudah ada, atau mengembangkan sesuatu yang sudah ada lebih menarik dan bermanfaat. Suatu kekreativitasan itu sangatlah penting, untuk menciptakan suatu hal yang baru dan berguna untuk masa depan kita.

Pengertian Kreativitas
     Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kreativitas adalah kemampuan untuk mencipta, daya cipta, dan perihal berkreasi (Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI], 2005).
     Pengertian kreativitas menurut para ahli. Torrance menyatakan bahwa
Kreativitas adalah proses kemampuan memahami kesenjangan-kesenjangan atau hambatan-hambatan dalam hidupnya, merumuskan hipotesis-hipotesis baru, dan mengomunikasikan hasil-hasilnya, serta sedapat mungkin memodifikasi dan menguji hipotesis-hipotesis yang telah dirumuskan. Untuk dapat memiliki kemampuan kreatif tersebut, hal tersebut berlangsung melalui proses belajar yang dilakukan oleh individu dalam kurun waktu yang lama (Ali & Asrori, 2014, h. 43).
     Guilford menyatakan bahwa kreativitas mengacu pada kemampuan yang menandai ciri-ciri seorang kreatif (Ali & Asrori, 2014, h. 41).
     Menurut Sternberg dan Lubart dikutip dalam (Wright, 2010, h. 3) “Creativity is the process of generating ideas that are novel and bringing into existence a product that is appropriate and of high quality.”
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kreativitas
     Arieti dikutip dalam Ali dan Asrori (2014), mengemukakan beberapa faktor sosiologis yang kondusif bagi perkembangan kreativitas, yaitu (a) tersedianya sarana-sarana kebudayaan, (b) keterbukaan terhadap keragaman cara berpikir, (c) adanya keleluasaan bagi berbagai media kebudayan, (d) adanya toleransi terhadap pandangan-pandangan yang divergen, dan (e) adanya penghargaan yang memadai terhadap orang-orang yang berprestasi.
     Menurut Jean Piaget dalam Bybee dan Sund, 1982 (dikutip dalam Ali & Asrori, 2014), faktor-faktor yang memungkinkan semakin berkembangnya kreativitas adalah (a) anak-anak mulai mampu menampilkan operasi-operasi mental, (b) anak mulai mampu berpikir logis dalam bentuk yang sederhana, (c) anak mulai berkembang kemampuannya untuk memelihara identitas diri, (d) konsep tentang ruang sudah semakin luas, (e) anak sudah amat menyadari akan adanya masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.
     Karena perkembangan kreativitas itu juga merupakan perkembangan proses kognitif maka kreativitas dapat ditinjau melalui proses perkembangan kognitif maka perkembangan kognitif melalui empat tahap. Menurut Jean Piaget dalam McCormack (dikutip dalam Ali & Asrori, 2014, h. 46-49) ada empat tahap perkembangan kognitif, yaitu sebagai berikut:
  1. Tahapan sensori-motoris, tahap ini dialami pada usia 0-2 tahun. Pada tahap ini anak berada dalam suatu pertumbuhan yang ditandai oleh kecenderungan sensori-motoris yang amat jelas. Sensasi yang dilakukan berdasarkan keadaan lingkungannya. Anak mengembangkan kemampuannya untuk mempersepsi, melakukan sentuhan-sentuhan, melakukan suatu gerakan, dan secara perlahan-lahan belajar mengoordinasikan tindakannya. Kemampuan yang paling tinggi pada tahap ini terjadi pada umur 18-24 bulan, yaitu sudah mulai terjadi transisi dari representasi tertutup menjadi representasi terbuka.
  2. Tahap praoperasional, tahap ini berlangsung pada usia 2-7 tahun. Pada tahap ini, anak bersifat sangat egosentris sehingga seringkali mengalami masalah berinteraksi dengan lingkungannya, termasuk dengan orangtuanya. Anak sering sulit memahami pandangan orang lain dan banyak mengutamakan pandanganya sendiri.
  3. Tahap operasional konkret, tahap ini berlangsung pada usia 7-11 tahun. Pada tahap ini, anak mulai menyesuaikan diri dengan realitas konkret dan berkembang rasa ingin tahunya. Sifat egosentris anak di tahap ini sudah semakin berkurang, dan interaksinya dengan lingkungan sudah semakin berkembang.
  4. Tahap operasional formal, tahap ini berlangsung pada usia 11 tahun keatas. Pada tahap ini, anak telah mampu mewujudkan sesuatu dalam pekerjaannya yang merupakan hasil dari pkiran logis. Interaksinya dengan lingkungan sudah amat luas menjangkau teman sebayanya.
Tahap-tahap Kreativitas
     Wallas dalam Solso (dikutip dalam Ali & Asrori, 2014, h. 51), mengemukakan empat tahapan proses kreatif, yaitu:
1.    Persiapan, anak  berusaha mengumpulkan informasi atau data untuk memecehkan masalah yang dihadapi.
2.    Inkubasi, proses pemecahan masalah dalam alam prasadar, anak seakan-akan melupakannya.
3.    Iluminasi, timbul inspirasi atau gagasan-gagasan baru serta proses psikologi yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi atau gagasan baru.
4.    Verifikasi, gagasan yang telah muncul dievaluasi secara kritis dan konvergen serta menghadapkannya kepada realitas.
Cara Berpikir Kreatif
     Guilford (1970) mengemukakan dua cara berpikir, yaitu (a) berpikir konvergen, cara-cara individu dalam memikirkan sesuatu dengan berpandangan bahwa hanya ada satu jawaban yang benar; dan (b) berpikir divergen, kemampuan individu yang untuk mencari berbagai alternatif jawaban terhadap suatu persoalan. Anak-anak yang kreatif lebih banyak memiliki cara berpikir divergen (Ali & Asrori, 2014, h. 41).
     Buzan (2005/2006, h. 94) menyatakan bahwa kreativitas adalah kemampuan berpikir dengan cara baru, menjadi orisinil. Pemikiran kreatif ada 3, yaitu: (a) kefasihan, seberapa cepat dan seberapa mudah anda melepaskan ide-ide baru yang kreatif; (b) fleksibilitas, kemampuan melihat sesuatu dari sudut pandang lain, mempertimbangkan sesuatu dari sudut pandang yang berlawanan; dan (c) orisinalitas, inti dari semua pemikiran kreatif, dan mewakili kemampuan menghasilkan ide-ide yang unik, dan tidak biasa.
Upaya untuk Meningkatkan Kreativitas anak
     Sepuluh cara untuk meningkatkan kreativitas anak adalah (a) tumbuhkan rasa percaya diri anak, (b) biarkan anak melakukan eksplorasi, (c) biarkan anak berimajinasi, (d) lebih banyak memberi saran daripada larangan, (e) berikan kegiatan yang merangsang kreativitas, (f) berikan waktu bermain yang cukup, (g) cegah stres pada anak, (h) berikan kesempatan anak untuk berpikir sendiri, (i) jangan memarahi anak jika melakukan kesalahan, (j) ciptakan suanasa keluarga penuh kasih sayang (“cara meningkatkan kreativitas anak”, 2014).

Simpulan
     Kreativitas itu pemikiran individu yang terbuka atau divergen terhadap segala sesuatu dan termasuk pandangan orang lain, yang dapat menciptakan hipotesis-hipotesis baru dan karya-karya yang dimodifikasi dari karya orang lain maupun karya baru yang bermutu tinggi dari seorang individu itu sendiri. Kreativitas anak berkaitan dengan perkembangan kognitif anak, sehingga ada tahapan-tahapan yang menyangkut kognitif, dan  proses kreativitas anak juga mempengaruhi kekreativitasan anak.
     Kekreativitasan anak juga berpengaruh dari keluarga yang dapat menciptakan suasana bahagia dalam keluarga, anak akan lebih bersemangat dalam melakukan suatu hal yang akan menambahkan kreativitas anak.

DAFTAR PUSTAKA
Ali, M., & Asrori, M. (2014). Psikologi remaja: Perkembangan peserta didik. Jakarta: Bumi Aksara.
Buzan, T. (2006). Senam otak untuk kesuksesan mental. Dalam F. Yuniar (Ed.), Buku pintar: Mind map (S. Purwoko, Penerj.). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. (Karya asli diterbitkan tahun 2005)
Cara meningkatkan kreativitas anak. (2014, November). The Asian Parent. Diunduh dari http://id.theasianparent.com/10-cara-meningkatkan-kreativitas-anak/
Hastomo, A. (n.d). Perkembangan dan Belajar Peserta Didik. Diunduh dari http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Agung%20Hastomo,%20S.Pd.,%20M.Pd/PBPD3.pdf
Pusat Bahasa Depiknas (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia (ed. 3). Jakarta: Balai Pustaka.
Wright, S. (2010). Understanding creativity in early childhood. Thousand Oaks, CA: SAGE.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar